Daerah

Standardisasi Meningkatkan Mutu Kopi Aceh

Dalam rangka peningkatan daya saing industri dan produk lokal  serta penguatan SDM standardisasi dan penilaian kesesuaian (SPK) di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, khususnya Kota Banda Aceh, Badan Standardisasi Nasional menyelenggarakan Workshop “Standardisasi, Meningkatkan Mutu Kopi Aceh. Acara yang diselenggarakan 9 November 2017 lalu di Ruang Senat Gedung Rektor Universitas Syiah Kuala ini terselenggara atas kerja sama BSN dan UPT Laboratorium Terpadu Universitas Syiah Kuala.

Acara ini dibuka oleh Kepala UPT Laboratorium Terpadu Universitas Syiah Kuala, Dr. Ir. Taufiq S.,M.Eng., dan  dihadiri oleh para pemilik usaha kopi dan beberapa dosen dari Fakultas Pertanian khususnya Jurusan Teknologi Hasil Pertanian. Dalam sambutannya Dr. Taufiq menyampaikan bahwa workshop ini terselenggara atas kerjasama BSN dan Universitas Syiah Kuala. Beliau berharap melalui kegiatan ini dapat mendorong pemilik usaha kopi di Banda Aceh dapat lebih meningkatkan kualitas kopi yang diproduksi sehingga mampu memberikan kopi dengan kearifan lokal Aceh yang berbeda dengan daerah lain.

  

Sebelum pemaparan materi, Kepala Bidang Diklat, Mayastria Yekttiningtyas memberikan sedikit pemaparan awal terkait kondisi industri kopi di Indonesia. Sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di dunia, sudah selayaknya Indonesia mampu menjadi industri kopi yang berdaya saing tinggi. Mayastria menyampaikan bahwa melalui workshop ini, diharapkan para pegiat kopi lebih sadar terhadap akan pentingnya penerapan standar kopi untuk meningkatkan mutu kopi Indonesia, khususnya di Banda Aceh.

Keynote speaker pada workhop ini adalah Manajer Teknis LS-Pro sekaligus Kepala Urusan Pelayanan Jasa dan Sertifikasi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Ir. Eko Mardiono. Dalam Pemaparannya, Ir. Eko menjelaskan beberapa point pentingnya SNI untuk menjaga mutu kopi Indonesia serta beberapa syarat mutu yang harus dipenuhi sesuai SNI. Menurut Ir. Eko, Indonesia telah memiliki kopi dengan kekhasan berdasarkan kondisi geografis Indonesia yang cukup beragam sehingga telah memiliki nilai lebih dibandingkan kopi dari negara lain.

Pada sesi diskusi, peserta sangat antusias dalam sharing pengalaman dan menggali informasi dari narasumber. Salah satu peserta adalah pegiat kopi yang telah memperoleh sertifikasi untuk produk kopi bubuk, yaitu Kopi Ulee Kareng. Hadir juga pegiat kopi yang sedang dalam proses sertifikasi bimbingan BSN yaitu Kopi Blang Padang. Dalam diskusi, peserta antusias untuk mengetahui kopi yang sesuai persyaratan SNI, cara mendapatkan sertifikat SNI dan cara mengikuti pembimbingan UMKM oleh BSN.


Dilihat : 209


Daftar SNI yang diusulkan untuk di Abolisi JAJAK PENDAPAT RSNI3 6128:201X, Beras Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2017 3 (tiga) Tahun Kerja Bersama - Capaian Kinerja Pemerintahan JOKOWI dan JK HASIL AKHIR SELEKSI TERBUKA PENGISIAN JABATAN PIMPINAN TINGGI MADYA DI LINGKUNGAN BADAN STANDARDISASI NASIONAL TAHUN 2017