Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Pengembangan Teknik Diagostik SARS-CoV-2 dan Kiat Pendeteksiannya

  • Minggu, 14 Juni 2020
  • Humas BSN
  • 415 kali

Saat ini jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia masih terus bertambah. Berdasarkan data dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, hingga 13 Juni 2020 terdapat sebanyak 37.420 jumlah kasus positif. Seseorang dapat dikatakan positif setelah dilakukan tes dan menunjukkan hasil yang positif.

Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi virus COVID-19. Di seluruh dunia saat ini sedang gencar-gencarnya untuk melakukan penelitian dan pengembangan berbagai metode deteksi virus COVID-19 atau SARS-CoV-2 ini. Melihat hal tersebut, Badan Standardisasi Nasional (BSN) menyelenggarakan webinar dengan tema "Deteksi dan Pengembangan Teknik Diagnostik SARS-CoV-2" yang dilaksanakan pada Sabtu, 13 Juni 2020 melalui Zoom. Webinar ini dibagi menjadi dua sesi, yang mana sesi pertama sudah dilakukan pada Jumat, 13 Juni 2020. Webinar ini juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube dan Facebook resmi BSN.

Kepala Divisi Riset PT. Riset Perkebunan Nusantara, Riza Arief Putranto menjelaskan, untuk dapat menekan angka penyebaran virus COVID-19, perlu dilakukan pendeteksian virus secara masif. Masif tes ini diperlukan untuk membantu memetakan lebih baik penyebaran virus tersebut. "Ketika masif tes ini banyak, maka kita bisa mendapatkan gambaran Case Fatality Rate (CFR), yaitu rasio dari jumlah yang meninggal positif COVID-19 dengan jumlah total kasus positif COVID-19".

Mengapa mengetahui jumlah CFR ini penting, sambung Riza, karena jika kita bisa mengetahui jumlah CFR yang "mendekati" yang riil di lapangan, maka kita bisa memahami lebih baik tingkat kegawatannya. "Kalau kita tahu tingkat kegawatannya, maka kita akan bisa membuat rencana dan aksi yang lebih baik untuk mengatasi permasalahan ini", jelas Riza.

Lebih lanjut Riza memaparkan, di Indonesia, metode tes yang paling umum dan banyak digunakan untuk mendeteksi virus Corona atau COVID-19 saat ini adalah dengan menggunakan Real Time - Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), yaitu tes dengan cara mengambil cairan dari hidung atau tenggorokan. Metode lain yang digunakan yaitu uji cepat atau biasa disebut Rapid Diagnostic Test (RDT). Tes ini berupa mengetes antibodi dalam tubuh seseorang.

"Namun sebenarnya ada beberapa metode lain yang bisa dilakukan dan juga sedang dikembangkan untuk bisa mendeteksi virus SARS-CoV-2 atau COVID-19 ini, salah satunya yang saat ini sedang dikembangkan adalah dengan metode Cut-LAMP (Loop Mediated Isothermal Amplification CUT) menggunakan CRISPR/Cas (Clustered Regulary Interspaced Short Palindromic Repeats - Caspase associated protein)", terang Riza.

"Jadi CRISPR based detecter DNA ini menggunakan nasophargy gel swab yang sudah diekstrak RNA virusnya, dilakukan amplification dari gen yang akan dipotong pada sistem detecter menggunakan gen E dan gen N. Gen tersebut diperbanyak menggunakan LAMP, kemudian dibentuk, DNA probe dicampur dengan larutan kemudian CRISPR/cas dimasukkan dalam tabung yang sama diinkubasi selama 30 menit. Hasilnya dideteksi dengan lateral flour visual yang apabila positif, akan berpendar memunculkan warna sehingga terlihat tanda strip", jelasnya.

Pengujian dengan metode ini menghasilkan reaksi yang spesifik dan waktu ujinya pun singkat dan akurat dalam mendeteksi virus penyebab COVID-19. "Pengujian ini dapat diketahui hasilnya dalam waktu sekitar 30 menit. Selain itu, biaya yang dibutuhkan untuk penggunaan metode ini juga lebih murah daripada menggunakan RT-PCR", ungkap Riza.

Adapun dalam proses pendeteksian virus SARS-CoV-2, ada hal yang harus diperhatikan dalam proses pendeteksian. Hal itu diungkapkan oleh Pengamat Independen COVID-19, Ahmad R.H. Utomo. Menurut Ahmad, hal yang perlu diperhatikan antara lain yaitu waktu pengambilan swab. "Ketika seseorang mengalami gejala, maka sebaiknya segera dilakukan tes PCR, karena pada satu minggu pertama gejala, tingkat sensitivitas RNA akan lebih tinggi dan lebih mudah terdeteksi oleh PCR".

Selain waktu pengambilan, hal yang tak kalah penting adalah sumber sampel ideal yang digunakan untuk pendeteksian. "Pada umumnya, sampel yang digunakan adalah berasal dari dahak, swab rongga hidung, swab tenggorokan, dan kemudian Bronchoalveolar Lavage Liquid", jelasnya. Ahmad melanjutkan, dari keempat sampel tersebut, sampel yang paling baik adalah berasal dari Bronchoalveolar Lavage Liquid yang dapat menunjukkan persentase lebih tinggi. "Namun sebaiknya, dalam pengambilan sampel untuk mendeteksi virus ini menggunakan lebih dari satu jenis sampel agar hasil lebih akurat", pungkasnya.

Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Halal BSN, Wahyu Purbowasito selaku moderator berharap dengan adanya penemuan dan pengembangan inovasi dalam pendeteksian COVID-19 ini, nantinya akan dapat digunakan dan dapat membantu dalam penanganan COVID-19 di Indonesia. (Tyo-Humas)