Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Dengan Menerapkan SNI, Tempe Siap Naik Kelas

  • Jumat, 04 September 2020
  • Humas BSN
  • 286 kali

Tempe. Ya, makanan yang begitu lekat di masyarakat Indonesia. Harganya terbilang masih ramah di kantong. Rasanya pun enak. Tapi bagi usaha yang satu ini, Rumah Tempe Indonesia (RTI) yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat, justru berpikir bahwa memproduksi tempe tak hanya enak, tapi juga bernutrisi dan memiliki masa simpan lama. Harganya pun lebih mahal dari harga jual pasaran. Sebuah keputusan yang cukup berani memproduksi tempe yang demikian. Menerapkan SNI Tempe menjadi bagian dari strategi bisnisnya untuk bisa memproduksi tempe dengan kriteria tersebut.

Ketua Umum Koperasi Produsen Tahu dan Tempe Indonesia (KOPTI) Kabupaten Bogor, Sukhaeri merupakan sosok yang berpikir untuk berani keluar dari Zona Nyaman dalam pengelolaan bisnis tempe. RTI adalah satu dari 5 kegiatan KOPTI Bogor. “Kami inginnya memproduksi tempe yang sehat, bernutrisi, masa simpan lama, dan tentunya sesuai standar” ujar Sukhaeri yang biasa disapa Heri. Meskipun diakuinya harga tempe produksi RTI lebih mahal dari pengrajin tempe pada umumnya, namun justru inilah yang ia anggap bisa mengangkat harkat tempe di masyarakat. “Bisnis buat saya pembentukan karakter. Maka doktrin saya, kalau kita memproduksi makanan yang tidak sehat dan berbahaya, malah kita zalim. Kalau kita menyajikan sesuatu yang baik, itu barokah,”ujarnya. Diakuinya hal ini memang susah tapi ia yakin keberkahan itu runtutannya seperti itu.

Ya, Tempe hasil produksi RTI yang juga berhasil meraih SNI 3144:2015 Tempe Kedelai. Keberhasilan RTI meraih SNI tidak terlepas dari usaha Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang melakukan pembinaan hingga meraih SNI. “Kami mungkin satu-satunya penerap SNI Tempe di Indonesia. Namun yang jelas, RTI adalah yang pertama kali meraih SNI,” jelasnya.

Dengan semangat ingin memproduksi tempe yang sehat, bernutrisi dan masa simpan lama, meraih SNI adalah kebanggaan baginya. Betapa tidak. Salah satu persyaratan dalam SNI yaitu kandungan protein minimal 15%, dengan mudah dipenuhinya. Termasuk persyaratan-persyaratan lain seperti batas maksimum cemaran logam, cemaran arsen, dan cemaran mikroba. Ini menjadikan tempe dengan merk “Tempe Kita” berbeda dengan tempe pada umumnya. Prestise karena diklaim lebih sehat dan harganya mahal. “Kami bersungguh-sungguh menerapkan SNI. Ini yang kadang menurut saya pengrajin merasa repot menerapkan SNI,”ujarnya.

Heri menerangkan lebih jauh. Menurutnya, tempe yang higienis itu adalah yang dihasilkan dari tempat yang memenuhi standar pengolahan makanan. Selain itu, baik pemilik maupun pengrajian juga memahami produk yang memenuhi standar keamanan pangan. Alat yang digunakan untuk memproduksi juga dipastikan higienis. Maka dari itu, konsep bisnis RTI adalah membentuk kepribadian bersih dan higienis.

Karena tempe produksinya berbeda dengan yang lain, maka pasarnya pun terbatas. Hanya 2% dari total konsumen tempe. “Pelanggan kami adalah supplier seperti restoran atau hotel yang datang ke RTI. Kami membuat aturan mereka harus pesan terlebih dahulu sebelum membeli. Juga harganya sudah kami yang tentukan,”jelas Heri. Dengan hanya pangsa pasar 2% tersebut, maka untuk memperkuat bisnis tempenya, RTI juga fokus menjual alat-alat untuk memproduksi tempe yang higienis. “Satu paket ada 13 alat. Kita tidak memaksakan pengrajin untuk memproduksi sesuai RTI. Tetapi ada beberapa pengrajin yang mulai mengikuti RTI. Mereka mulai membeli alat yang dijual RTI,”terangnya.

Bagi Heri, membeli tempe dengan metode pengolahan seperti yang diterapkan RTI atau yang dilakukan secara turun temurun, adalah pilihan konsumen maupun pengrajin tempe. Karena itu pilihan, maka konsep pemasaran RTI pun tidak memaksakan konsumen harus membeli produk RTI. Meskipun diakuinya, orang yang membeli tempe produk RTI pada umumnya suka meskipun harganya mahal. Yang jelas, obsesinya sampai saat ini adalah ingin mengangkat harkat dan derajat tempe. “Tempe harus bisa masuk ke supermarket dengan kelas A. Tempe juga bisa menjadi konsumsi lintas, seperti hotel yang sudah menyajikan menu dengan bahan dasar tempe,”kata Heri.

RTI sendiri sudah mencoba melakukan ekspor ke Thailand sebanyak 5 kali. Namun, ini tidak berlanjut karenanya harganya yang ternyata lebih rendah daripada dijual di pasar dalam negeri. “Tapi sekarang sudah mulai ada permintaan dari Malaysia, Vietnam, Singapura. Maunya RTI, tempe dijadikan makanan olahan, karena pangsa pasar yang dibidik orang Indonesia yang di sana,”ujar Heri. (DNW)

 

 

Tautan berita:

http://www.thequality.co.id/index.php/home/post/1102/dengan-menerapkan-sni-tempe-siap-naik-kelas