Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Standardisasi Dalam Perspektif Agama

  • Selasa, 29 September 2020
  • Humas BSN
  • 403 kali

 

Standardisasi tidak dapat terlepas dari kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, prinsip-prinsip standardisasi memang dapat diaplikasikan dalam bermasyarakat. Bahkan, bila ditilik dari perspektif agama, standardisasi mengaplikasikan nilai-nilai yang tercantum dalam Al Qur’an, dengan mengikuti perkembangan zaman.

 

Dalam Al Qur’an, Allah perintah agar manusia dapat mengamati alam semesta untuk mengambil ilmu / hikmah. Ilmu harus dipahami untuk kemudian diterapkan, sehingga dapat memberi kemanfaatan untuk kehidupan. “Standardisasi merupakan bagaimana kita mendapat suatu referens / acuan, sesuatu yang bisa mengatur supaya hubungan ini menjadi lebih baik,” ujar Peneliti Ahli Utama Badan Standardisasi Nasional (BSN), Bambang Prasetya dalam Dialektika Baitul Hikmah yang disiarkan melalui platform youtube pada Rabu (23/09/2020).

 

Bambang yang juga pernah menjabat sebagai Kepala BSN periode 2012-2020 menerangkan, berdasarkan ajaran Rasulullah, suatu perkara harus diserahkan kepada ahlinya. “Standardisasi mengikuti ajaran tersebut, karena standardisasi sangat konsensus dan melibatkan para pakar,” ujar Bambang.

 

Kemudian, dalam hal metodologi penelitian, pengukuran pun harus jelas. Standardisasi, dalam hal ini metrologi, memiliki 7 konstanta dasar yang mengacu pada alam. Ukuran tersebut digunakan untuk mendukung sain. “Dapat dikatakan, koherensi antara sain, standardisasi dan Al Quran sudah jelas, bagaimana alam kita amati, kita kelola, dan untuk mengelola lebih baik kita membutuhkan sain, dan untuk lebih baik lagi kita memerlukan standar-standar untuk mendukung interaksi,” kata Bambang.

 

Bambang melanjutkan, dalam Al Qur’an juga terdapat banyak ayat yang menekankan akan pentingnya kebenaran ukuran dalam timbangan. Dalam Surat As-Syura ayat 181 terdapat perintah untuk menyempurnakan timbangan. “Ini bukti bahwa salah satu aspek dalam standardisasi, yaitu pengukuran, perintahnya sangat kuat,” tegas Bambang.

 

Banyak ayat yang memerintahkan kita sebagai umat manusia untuk meneladani 4 sifat Rasulullah SAW, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Bambang menilai, sifat-sifat tersebut sesuai dengan prinsip perumusan standar, seperti transparan, adil, akuntabel, bertanggung jawab, ilmiah, serta terbuka.  “Tidak kurang dari 56 ayat dalam Al Qur’an yang membicarakan tentang keadilan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Bambang. Kemudian, prinsip Konsensus (Musyawarah). Perintah untuk melaksanakan musyawarah terdapat pada surat Asy-Syura ayat 38 dan Ali Imran ayat 159. “Musyawarah sangat dijunjung dalam Al Qur’an,” tutur Bambang. (ald-Humas)