Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Standar Tingkatan Layanan Kesehatan berbasis TIK

  • Rabu, 11 November 2020
  • Humas BSN
  • 586 kali

 

Bulan Mutu Nasional (BMN) ialah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) dalam rangka diseminasi informasi standardisasi. Salah satu bagian dari rangkaian kegiatan BMN ialah webinar “Standard and Conformity Assessment as enabler of ICT Based Health Services” pada Rabu (11 November 2020). Seminar daring ini merupakan kerja sama BSN dengan Universitas Islam Indonesia (UII).

 

Pada pembukaan webinar, Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN, Nasrudin Irawan menyampaikan bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memampukan efektivitas layanan kesehatan dan penanganan Covid-19. Meskipun dibatasi jarak dan waktu, tenaga kesehatan yang ada di daerah terpencil dapat berkonsultasi dengan ahli untuk keputusan diagnostik, terapi maupun tindakan lebih lanjut dengan memanfaatkan TIK yang ada. “Dengan penetrasi TIK yang semakin menyatu dalam kehidupan, pemanfaatan TIK untuk mendukung pembangunan kesehatan tidak terhindarkan. Implementasi TIK diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan proses kerja yang efektif dan efisien, juga mengoptimalkan aliran data sehingga meningkatkan ketersediaan data dan informasi kesehatan yang berkualitas” ujar Nasrudin.

 

Penerapan Artificial Intelligence (AI) dalam teknologi di bidang kesehatan diprediksi akan menghemat anggaran sebesar 150 Milyar USD pada sektor kesehatan. Penerapannya antara lain dalam bidang pengelolaan rekam medis, analisa hasil pemeriksaan, perencanaan terapi, konsultasi digital, mengamati respon pasca pengobatan, pembuatan obat, precision medicine dan memonitor kondisi kesehatan.

 

ISO membentuk Technical Committee (TC) 215 Informatika Kesehatan untuk mengembangkan standar internasional terkait informatika kesehatan. ISO TC 215 telah mempublikasikan 201 standar internasional, 67 standar dalam proses perumusan melalui 28 anggotanya dan 35 orang observer.

 

Di Indonesia, saat ini telah dibentuk Komite Teknis 35 – 03 yang bertugas merumuskan standar Informatika Kesehatan. Dengan melibatkan pemerintah, produsen, konsumen, serta pakar dari perguruan tinggi. Komtek 35 – 03 telah menyusun 15 SNI terkait Informatika Kesehatan.

 

Dalam penanganan Covid-19, BSN telah melakukan pengembangan standar. Saat ini, telah tersedia 70 SNI terkait penanganan Covid-19, seperti SNI terkait hand sanitizer, masker medis, masker kain, pelindung pernafasan, pelindung mata, ventilator, sarung tangan medis, pakaian pelindung, sarung tangan pelindung, serta biosafety cabinet dan bioteknologi pelindung.

 

Hadir mewakili Rektor UII, Prof. Wiryono Raharjo dari UII menyampaikan bahwa teknologi informasi kesehatan telah banyak memainkan peran dalam melawan pandemi Covid-19. “Pandemi kali ini mengoptimalkan pemafaatan internet menjadi platform informasi utama. Masyarakat dapat mengakses informasi epidemi melalui berbagai platform dan mengakses dinamika situasi epidemi dan pengetahuan pencegahan melalui mobile internet,” Ungkap Wiryono.

 

Penelitian dan informasi menggunakan TIK seperti AI, telehealth, big data dan penggunaan komputasi awan telah dimanfaatkan dalam upaya menangani dan mencegah pandemi. Meski demikian, TIK memilliki keunggulan dan resiko. Hampir setiap rumah sakit di semua negara menggunakan layanan kesehatan menggunakan sistem informasi secara online. Sementara tenaga kesehatan sibuk merawat pasien, jenis virus lain yang menyerang TIK dapat menjadi risiko tersendiri bagi informasi kesehatan. Hal ini menjadi perhatian khusus untuk dapat diantisipasi dengan tindakan pencegahan.

 

Direktur Rujukan Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Dr. Rita Rogayah Menyampaikan pengembangan pelayanan Telemedicine. Isu pelayanan kesehatan di Indonesia meliputi pembiayaan kesehatan universal, mutu dan keselamatan pasien, serta akses pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan di Indonesia mempunyai tantangan tersendiri, seperti akses pelayan kesehatan yang belum merata, pelayanan rujukan pasien yang belum baik, rumah sakit yang belum menggambarkan kompetensi yang sebenarnya, serta mutu pelayanan dan pemanfaatan TIK.

 

Strategi pemanfaatan TIK untuk pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien diterapkan didalam e-planning, e-reporting, e-registrasi, sistem informasi pelayanan kesehatan, sistem informasi fasyankes, AI dalam pelayananan kesehatan.

 

Beberapa jenis pelayanan kesehatan online yang telah tersedia di Indonesia diantaranya aplikasi pelayanan konsultasi antara tenaga medis seperti aplikasi Telemedicine, konsultasi ekspertise, serta konsultasi kesehatan antara dokter dengan pasien. Pada prinsipnya penerapan aplikasi Telemedicine bukan hanya untuk menyediakan pelayanan kesehatan jarak jauh, tapi juga untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang efisien secara keseluruhan.

 

Telehealth adalah terminologi yang digunakan oleh The Health Resources and Services Administration (HRSA) dari U.S. Department of Health and Human Services untuk menggambarkan penggunaan informasi elektronik dan teknologi telekomunikasi untuk mendukung dan mempromosikan pelayanan kesehatan jarak jauh, Pendidikan terkait kesehatan untuk pasien dan profesional, kesehatan publik dan administrasi kesehatan. Teknologi ini termasuk video conference, internet, penyimpanan dan pengiriman gambar, streaming media, serta komunikasi kabel dan nirkabel. “Penerapan telehealth ini telah banyak memberikan kenyamanan dan efisiensi dalam penanganan pandemi Covid-19,” ungkap Regional Leader Reviewer Underwriter Laboratory (UL) China, Paul B. Zhang

 

Business Development Director untuk Emergo dari UL, James Keller menyediakan beberapa perspektif global dan Amerika Serikat mengenai telehealth di bidang kesehatan. Telehealth menunjukkan peningkatan pengguna semenjak pandemi Covid-19 merebak. Amerika menjadi pengguna teleradiology terbesar, sementara eropa secara umum mengalami peningkatan penggunaan telehealth terbesar di berbagai bidang seperti remote patient monitoring, telepsychiatry, telepathology, teledermatology.

 

Berdasarkan penerapan yang telah dijalankan di dunia terutama di Amerika Serikat, beberapa hal perlu diperhatikan untuk adopsi telehealth yang aman. Di antaranya, fakta bahwa diseminasi inovasi yang tidak mudah, diperlukannya ekosistem yang mapan dan terkoordinasi, infrastuktur teknologi yang kuat standar yang berlandaskan teknis dan risiko, kemampuan untuk dioperasikan bersama, privasi, keamanan, serta kolaborasi internasional yang memanfaatkan upaya dan proses yang telah diterapkan sebelumnya.

 

Selaku pakar, Kepala IEEE Indonesia, Wisnu Jatmiko membicarakan etika dalam penerapan TIK, terutama penelitian-penelitian di bidang robotik dan AI dalam telehealth. Menurut Wisnu, salah satu tantangan penerapan telehealth ada pada penerapan etika dalam AI, seperti penetapan regulasi, ketersediaaan infrastruktur, sumber daya manusia, peralatan, hingga keberlanjutan. Tantangan lain ada pada penerapan standar, dimana pemerintah harus membangun komunitas, bekerja sama dengan asosiasi internasional di bidang telemedicine, dan membangun otoritas nasional untuk telemedicine. Permasalahan big data juga menjadi tantangan tersendiri karena penerapan telehealth membutuhkan orang yang tepat di bidang yang tepat, pembiayaan yang besar, dan permasalahan privasi dari sumber data.

 

Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Alam UGM, Kuwat Triyana mengupas aplikasi GeNose, sebuah aplikasi peralatan medis berbasis artificial intelligence untuk deteksi cepat Covid-19 melalui hembusan nafas. Pengetesan GeNose sudah melalui proses uji profil (internal validation) uji performa and keamanan (BPFK), dan melalui uji diagnose (uji klinis). GeNose bertugas memprediksi Covid-19, yang dilanjutkan dengan tes PCR untuk mengkonfirmasi.

 

Sekretaris Utama Program Studi Teknik Industri International Program UII, Ira Promasanti Rachmadewi berbicara mengenai penerapan telehealth di Indonesia dan standar terkait, seperti pada progam JKN, aplikasi Aplicare JKN untuk mengecek tingkat okupansi dan ketersediaan kamar untuk pasien Covid-19, bridging system untuk JKN dan aplikasi-aplikasi seperti PeduliLindungi, Halodoc dan sebagainya. (Put – Humas)