Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

ISO/PAS 45005:2020, untuk Kerja Aman di Masa Pandemi COVID-19

  • Kamis, 28 Januari 2021
  • Humas BSN
  • 10061 kali

Beberapa hari terakhir, total kasus COVID-19 telah menembus angka 1 juta, dengan jumlah kasus aktif berkisar 160.000 dan angka kasus baru yang mencapai belasan ribu per-hari. Kurang lebih 60% kasus tersebut terpusat dipulau Jawa yang merupakan pulau terpadat sekaligus pusat bisnis dan pemerintahan. Bagaimana pun, penyebaran kasus COVID-19 ini berdampak juga pada pemulihan bisnis di Indonesia.

Badan Standardisasi Nasional (BSN) turut mendukung pelaksanaan webinar ISO/PAS 45005:2020 yang diselenggarakan oleh Center for Risk Management and Sustainability (CRMS) bersama Indonesia Risk Management Professional Association (IRMAPA) dengan tema “ISO/PAS (Public Availability Specification) 45005:2020, General Guidelines for safe working during the Covid-19 Pandemic” dan subtema “the Role of Risk Management in Supporting Organizational Resilience and Recovery during Covid-19 Pandemic 2021” pada Rabu (27/1/2021).

Sebagai respon cepat dalam penanganan pandemi, ISO telah menerbitkan ISO/PAS 45005:2020 Occupational Health and Safety Management – General guidelines for safe working during the COVID-19 Pandemic. ISO/PAS 45005:2020 merupakan pedoman umum untuk keselamatan kerja selama pandemi COVID-19. Standar yang diterapkan secara sukarela ini disusun untuk menjawab kebutuhan pasar yang mendesak. Segala level organisasi, baik UMKM, perusahaan besar, organisasi pendidikan, maupun BUMN dapat memanfaatkan ISO ini. “BSN selaku Badan Standar akan mengadopsi ISO/PAS 45005:2020 dan menargetkan penyelesaian SNI-nya dalam waktu dekat [April 2021]” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN, Nasrudin Irawan.

ISO/PAS 45005:2020 membahas beberapa hal, salah satunya mengenai penilaian risiko pada lingkungan kerja, baik di dalam kantor, rumah, maupun fleksibel. Selain itu, ISO/PAS 45005:2020 juga memastikan peran dan tersedianya SDM dalam penanganan COVID-19, menyiapkan rencana tindakan apabila ada kasus (terduga/konfirmasi) COVID-19, serta aturan dan perlengkapan yang diperlukan saat berinteraksi dengan pemangku kepentingan.

Ketua Komtek 03-10 Tata Kelola, Manajemen Risiko, dan Kepatuhan BSN, Antonius Alijoyo, menekankan bahwa kehadiran ISO/PAS 45005:2020 patut diapresiasi. “Dengan kehadiran standar ini kita berharap kehidupan sosial Indonesia dapat ditangani dengan efektif, adanya pemulihan dunia bisnis dan usaha di tengah pandemi, dan percepatan pemulihan ekonomi Indonesia secara kolektif,” tuturnya.

Menurut Antonius, standar ISO/PAS 45005:2020 memerlukan respon para profesional di bidang manajemen risiko, karena metodologi asesmen risiko dapat dipakai ditempat kerja untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Bukan hanya berkontribusi dalam menghadapi krisis seperti sekarang, metodologi ini juga dapat digunakan sebagai rujukan menghadapi wabah atau potensi wabah penyakit menular lainnya, baik sekarang maupun di masa depan.

Penerapan sistem manajemen K3 telah menjadi protokol umum dan diterapkan dimana-mana. Dengan manajemen K3 tercakup di dalamnya, standar ISO/PAS 45005:2020 menjadi seruan kepada manajemen puncak perusahaan/organisasi publik untuk serius membangun kemampuan organisasi dalam asesmen dan pengendalian risiko yang andal.

Inspektur I Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Heri Radison menyampaikan pembagian strategi pengendalian COVID-19 terbagi ke dalam beberapa tahapan. Tahap pertama berupa surveilans epidemologi dan upaya penemuan kasus baru secara aktif melalui pemeriksaan laboratorium. Kemudian, dilakukan tindakan isolasi mandiri maupun karantina dengan manajemen klinis. Selanjutnya, dilakukan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) untuk pencegahan penularan di masyarakat. Kemudian, komunikasi risiko dan pemberdayaan masyarakat, penyediaan sumber daya, dan pelayanan Kesehatan esensial. Menurut Heri, surveillance epidemologi dan upaya penemuan kasus secara aktif merupakan langkah pertama dan utama.

Program vaksinasi COVID-19 di Indonesia terbagi 4 periode sejak bulan Januari 2021 hingga Maret 2022. Imunisasi berperan penting untuk membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok. Kekebalan kelompok akan menurunkan jumlah pasien dan angka kematian. Setelah terbentuk herd immunity, akan terbentuk community protection, sehingga nantinya masyarakat dapat melaksanakan hidup normal Kembali. “Untuk mendapatkan herd immunity,” jelas Heri, “setidaknya 181,5 juta rakyat Indonesia harus mendapatkan vaksinasi.”

Ketua Komtek 13-01 K3 BSN, Muhammad Idham, menyampaikan ISO/PAS 45005 merupakan penguatan kebijakan di bidang K3 di masa pandemi COVID-19. Berbagai bidang bisnis terimbas dalam proses kelangsungan usaha, seperti gangguan pelayanan, tingkat permintaan barang dan jasa, hingga penutupan perusahaan. Berbagai permasalahan yang muncul, seperti anjloknya sektor pariwisata dan ketidakhadiran buruh dalam pekerjaan menimbulkan berbagai persoalan. Macam-macam kebijakan dan norma muncul sebagai respon yang mengatur bagaimana perusahaan dapat tetap berlangsung sambil mencegah penyebaran COVID-19 semaksimal mungkin. Salah satunya standar ISO/PAS 45005:2020 ini.

Menurut Idham, ISO/PAS 45005 dapat diterapkan di segala jenis industri/organisasi. Idham berharap dengan adopsi, ISO/PAS 45005 ini dapat segera dijadikan pedoman oleh berbagai pihak. ISO/PAS 45005:2020 telah disetujui oleh 80 negara anggota tim teknis, termasuk Indonesia. Standar ini juga sebagai langkah melindungi pekerja dari peningkatan risiko kerja pada masa pandemi.

Terdapat 14 klausul dalam standar ini. Beberapa klausul yang menonjol diantaranya penekanan pada kasus terduga/terkonfirmasi COVID-19, pengelolaan sakit di tempat kerja fisik, pengelolaan sakit bekerja di rumah atau di tempat bergerak, pengujian, pelacakan kontak dan karantina, termasuk protokol kesehatan masuk dan keluar dari tempat kerja. Idham mendorong masyarakat untuk turut aktif merespon jajak pendapat ISO/PAS 45005:2020 ini agar ISO adopsi ini segera ditetapkan sebagai SNI.

Kehadiran ISO/PAS 45005:2020 menjadi harapan yang dapat membantu dunia usaha dalam pemulihan bisnis khususnya bagi bisnis yang mengandalkan kegiatan fisik, sebab pembatasan fisik merupakan tantangan tersendiri. Bisnis diharapkan dapat tetap berjalan namun tetap aman bagi keselamatan pekerja.

Dimoderatori Ketua IRMAPA, Charles R. Vorst, webinar ini dihadiri sekitar 700 peserta dari berbagai bidang bisnis. (Put – Humas)