Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Pupuk Kaltim Tingkatkan Daya Saing Batik Lokal Bontang Melalui SNI

  • Senin, 04 Oktober 2021
  • Humas BSN
  • 1549 kali

TRIBUNKALTIM.CO - Perkembangan dan eksistensi batik sebagai salah satu kekayaan nusantara tak luput dari perhatian PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim), guna mengenalkan warisan budaya Indonesia itu ke berbagai kalangan.

Perhatian yang diberikan Pupuk Kaltim ini dengan melakukan pembinaan bagi pengusaha batik lokal agar mampu tumbuh dan berdaya saing.

Kini, dua batik mitra binaan Pupuk Kaltim, yakni Batik Beras Basah dan Batik Kuntul Perak telah mendapat tempat di masyarakat.

Bahkan telah merambah ke mancanegara sebagai batik lokal khas Bontang.

Owner Batik Beras Basah Eko Widji Rahayu atau yang akrab disapa Ewied mengatakan, Pupuk Kaltim berperan penting terhadap kemajuan dan perkembangan usaha batiknya.

Walhasil, karyawan batik milik usahanya itu kini menjadi salah satu batik kebanggaan masyarakat Bontang.

Pada 2018, Batik Beras Basah mampu menjadi batik lokal pertama di Kaltim yang meraih Sertifikat Produk Penggunaan Tanda Standar Nasional Indonesia (SPPT SNI) untuk jenis batik tulis, cap dan kombinasi, dari Badan Standardisasi Nasional (BSN).

"Kini kami telah melayani berbagai permintaan pasar di dalam dan luar negeri, untuk berbagai jenis produk batik mulai kain hingga pakaian jadi dan lainnya," kata Ewied.

Batik Beras Basah terinspirasi dari nama icon wisata Kota Bontang dengan corak biota laut.

Nama ini dinilai mewakili Bontang agar nama daerah maupun Pulau Beras Basah sebagai icon wisata semakin dikenal secara luas.

Batik Beras Basah telah menjadi mitra binaan Pupuk Kaltim sejak 2010, yang tak hanya memperoleh manfaat berupa modal usaha, tapi juga difasilitasi beragam pelatihan dan kompetensi hingga promosi dan hak paten merek dagang.

"Termasuk difasilitasi untuk pengurusan SPPT SNI, sehingga produk kami bisa berkembang dengan inovasi yang lebih beragam," tambah Ewied.

Tantangan pandemi Covid-19 tak luput dari perjalanan Batik Beras Basah, yang sempat terimbas karena anjloknya permintaan.

Namun akibat peran Pupuk Kaltim melalui pemberdayaan pembuatan ribuan masker berbahan dasar kain batik untuk dibagikan ke masyarakat secara bertahap, hingga pembuatan suvenir untuk tamu perusahaan, membuat usahanya itu tetap eksis ditengah masa sulit pandemi.

Ewied bersama tim batik Beras Basah mampu bertahan dan mulai kembali bergeliat dalam beberapa waktu terakhir.

Manfaat yang sama juga turut dirasakan Kadir Assegaf, owner Batik Kuntul Perak yang juga difasilitasi Pupuk Kaltim untuk mendapatkan SPPT SNI pada 2019.

Pemberdayaan pada awal pandemi Covid-19 untuk pembuatan masker batik bak durian runtuh.

Sebab, jumlah pesanan 10.000 masker di luar ekspektasinya.

Jumlah permintaan yang besar itu seakan menjadi bahan bakar kembali untuk menghidupkan mesin bisnis batiknya.

Pesanan masker yang meningkat tajam itu dibagi ke berbagai penjahit lokal, sebagai upaya kerja sama agar sesama UMKM bisa ikut merasakan manfaat pemberdayaan Pupuk Kaltim.

Sebab, dirinya menyadari jika hampir seluruh sektor usaha masyarakat berimbas terhadap lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Pengusaha batik lokal pertama di Bontang ini juga menjadikan masker batik sebagai peluang baru, di samping pengembangan corak serta desain pakaian yang lebih milenial untuk mengajak generasi muda gemar terhadap batik.

"Kami menggandeng belasan penjahit lokal Bontang serta puluhan penjahit pemula dari LKP binaan Pupuk Kaltim, agar kita bisa bangkit bersama dari pandemi," terang Kadir.

Dirinya menyebut, langkah besar yang diambilnya itu tak lepas dari komitmen Pupuk Kaltim yang selama ini sangat berjasa dalam pengembangan batik lokal, khususnya usaha yang dia kelola.

Sejak 2007 menjadi mitra binaan Pupuk Kaltim, dia telah mendapatkan beragam manfaat.

"Kini giliran kita menebar manfaat, agar apa yang dilakukan Pupuk Kaltim selama ini benar-benar berdampak positif dengan lebih luas di masyarakat," tandasnya.

Atas capaian SPPT SNI, kualitas Batik Kuntul Perak yang diambil dari nama burung khas Kota Bontang ini makin dipercaya konsumen, sebagai salah satu batik berkualitas di Kaltim.

Kadir mengakui SPPT SNI meningkatkan kepercayaan publik dan tak meragukan produk yang dihasilkan.

"Seiring Hari Batik Nasional tahun ini, kami berupaya untuk terus meningkatkan peran dalam mendukung batik sebagai kekayaan nusantara," terang Kadir.

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi mengungkapkan, perusahaan berkomitmen untuk terus mendukung batik sebagai warisan budaya Indonesia, sekaligus mengembangkan peluang UKM lokal di sektor batik agar lebih berdaya saing.

Pupuk Kaltim juga melihat potensi batik lokal dengan corak dan motif unik, sebagai peluang usaha menjanjikan yang bisa digarap serius oleh masyarakat.

Selain Batik Beras Basah dan Kuntul Perak, Pupuk Kaltim juga tengah mengembangkan potensi batik Malahing, hasil kreasi ibu rumah tangga binaan yang bermukim di pesisir Bontang.

Beragam pendampingan dan penguatan kapasitas untuk keterampilan membatik terus dilakukan, agar batik Malahing juga meraih SPPT SNI.

"Pupuk Kaltim ingin menunjukkan jika batik memiliki nilai dan kearifan tersendiri di masyarakat. Inilah yang terus kita kembangkan sebagai budaya dan ciri khas Indonesia," kata Rahmad.

Pupuk Kaltim juga terus berupaya mendorong para pelaku batik binaan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk, sekaligus menyasar potensi pasar dengan lebih luas.

Sebab, pembinaan Pupuk Kaltim tak hanya berbicara pada keberhasilan pengelolaan serta manajemen usaha saja, tapi juga menciptakan lebih banyak peluang sektor usaha yang dijalankan.

"Bukan tidak mungkin batik Bontang bisa tembus pasar ekspor dan ini yang terus didorong Pupuk Kaltim untuk perkembangan batik mitra binaan, karena peluang dan daya saing itu harus dimanfaatkan dengan baik," pungkas Rahmad.

 

Tautan berita: Pupuk Kaltim Tingkatkan Daya Saing Batik Lokal Bontang Melalui SNI - Tribunkaltim.co (tribunnews.com)