Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Kepala BSN Berikan Kuliah Umum terkait SPK di ITB

  • Kamis, 18 November 2021
  • Humas BSN
  • 1912 kali

Mungkin kita tidak selalu menyadari keberadaan standar yang ada di sekitar ternyata telah memberi banyak manfaat nyata di berbagai kebutuhan kehidupan. Standardisasi digunakan oleh berbagai kebutuhan kehidupan dengan tujuan yang berbeda. Ketika berbicara standar dan transaksi antar negara, di era gobalisasi, standar menjadi alat yang sangat penting digunakan sebagai indikator bahwa barang atau jasa bisa ditransaksikan antar negara melalui kegiatan ekspor impor dengan pemenuhan standar yang disepakati oleh kedua negara. Termasuk kaitannya dengan mutu, keamanan produk, dan sebagainya.

Sebagai contoh, di kehidupan sehari-hari seperti saat membeli BBM di SPBU. Tentunya, sebagai konsumen kita menginginkan kepastian sesuai dengan ukuran yang semestinya. Sebagaimana diketahui, SPBU Pertamina sendiri sudah melakukan kalibrasi/ tera agar tidak merugikan konsumen. Kegiatan mengukur dan kepastian hasil ukur mengukur merupakan bagian dari kegiatan standardisasi.

 

Demikian disampaikan Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Kukuh S. Achmad dalam Studium Generale di Institut Teknologi Bandung (ITB) “Peran Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian dalam Meningkatkan Pendidikan Standardisasi di Institut Teknologi Bandung” melalui daring pada Rabu (17/11/2021).

Untuk perguruan tinggi, Kukuh melanjutkan, perguruan tinggi memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam dunia standar. Selain itu, sebagai jembatan utama (ultimate bridge) antara generasi muda dengan dunia professional serta sumber utama (key producers) dari ilmu pengetahuan.

Bagi dosen dan mahasiswa, pengetahuan tentang standar dapat menjadi acuan/rujukan untuk digunakan sebagai bahan ajar, penulisan kajian ilmiah/skripsi, dan pengetahuan nilai tambah untuk terjun ke dunia kerja/industri. Standar pun juga mendorong pengembangan produk inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi.

Adapun, peran standardisasi dan penilaian kesesuaian (SPK) di perguruan tinggi antara lain dapat meningkatkan mutu layanan pendidikan; penguatan riset dan inovasi; pengelolaan data dan Informasi; publikasi dan knowledge management; penguatan mutu lulusan; dan kerjasama internasional.

Selain itu, Kukuh juga memaparkan standar-standar yang cukup relevan diterapkan perguruan tinggi. Diantaranya SNI ISO 9001 Sistem Manajemen Mutu. “Pada awalnya standar ini bersifat generik. Namun pada perkembangannya, banyak pihak yang memerlukan standar yang sifatnya dibumikan dalam sektor-sektor tertentu. Seperti, SNI ISO 21001 Sistem Manajemen Organisasi Pendidikan yang berbasis SNI ISO 9001 tapi disesuaikan dengan kondisi/konteks kebutuhan perguruan tinggi,” terang Kukuh.
SNI ISO 21001, menurut Kukuh sudah banyak diterapkan cukup luas oleh dunia internasional serta digunakan juga sebagai indikator atau parameter pengakuan internasional. Karena, hampir seluruh perguruan tinggi di dunia bercita-cita menjadi world class university. BSN juga telah berdialog dengan BAN PT bukan untuk menggantikan tapi sebagai persyaratan komplementer yang bertujuan agar perguruan tinggi di Indonesia bisa naik kelas menjadi world class university.

Selain standar tersebut, terdapat pula standar kompetensi laboratorium agar hasil pengujian kalibrasi dikeluarkan oleh laboratorium diakui validitasnya. Yakni SNI ISO/IEC 17025. Dan, lab ITB juga beberapa sudah menerapkan dan diakui internasional.

Sementara itu, Kukuh juga menjelaskan trend standar kedepan. Terdapat 10 standar yang popular di dunia standar diantaranya mengenai alat kesehatan, manajemen lingkungan, manajemen risiko, kompetensi lab, tanggung jawab sosial (CSR), Sistem Manajemen Anti Penyuapan, serta manajemen energi.

Tercatat sampai dengan saat ini, SNI yang telah ditetapkan BSN sebanyak 13.820 SNI. Dari jumlah tersebut SNI yang diwajibkan sejumlah 258 SNI. Jumlah skema yang dioperasikan Komite AKreditasi Nasional (KAN) sebanyak 32 skema akreditasi dengan jumlah Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK) yang terakreditasi KAN berjumlah 2.420 LPK.

Melalui acara Studium Generale, Kukuh berharap civitas akademika semakin menyadari akan pentingnya standardisasi dan penilaian kesesuaian sehingga dapat meningkatkan mutu, kualitas dan daya saing perguruan tinggi demi membangun Indonesia maju. (nda-humas)