Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

Pentingnya Partisipasi Laboratorium dalam Uji Profisiensi Guna Tunjang Proses Akreditasi

  • Senin, 23 Mei 2022
  • Humas BSN
  • 196 kali

Partisipasi laboratorium dalam uji banding laboratorium atau uji profisiensi sangat diperlukan untuk menunjang proses akreditasi. Seperti yang tercantum dalam International Laboratorium Accreditation Cooperation (ILAC) Mutual Recognition Arrangement (MRA). Uji banding laboratorium atau uji profisiensi merupakan salah satu alat yang penting digunakan oleh laboratorium dan badan akreditasi untuk memonitor hasil pengujian dan kalibrasi yang valid dan menverifikasi keefektifan dari proses akreditasi laboratorium.

Demikian diungkapkan Kepala Laboratorium Standar Nasional Satuan Ukuran (SNSU) Kelistrikan dan Waktu Badan Standardisasi Nasional (BSN), Agah Faisal dalam Pertemuan Teknis Uji Profisiensi Kimia secara daring pada Senin (23/5/2022).

Agah mengungkapkan uji banding laboratorium atau uji profisiensi, dapat dilaksanakan oleh beberapa laboratorium terakreditasi ataupun laboratorium dalam persiapan akreditasi. “Melalui Uji Profisiensi, kepercayaan dan kepuasan pelanggan pada kinerja laboratorium dapat ditingkatkan karena keabsahan dan keakuratan hasil pengujian dari laboratorium tersebut dapat dijamin dan dikontrol,” ujar Agah.

Sebagaimana diketahui, sebagai Lembaga Metrologi Nasional, SNSU BSN memiliki tugas pokok mendiseminasikan ketertelusuran (traceability) pengukuran kepada laboratorium-laboratorium penguji dan laboratorium kalibrasi di Indonesia. Dalam menjalankan tugasnya sebagai Lembaga Metrologi Nasional Indonesia, SNSU BSN mengelola secara teknis SNSU baik untuk satuan ukuran di bidang metrologi fisika, biologi maupun satuan ukuran di bidang metrologi kimia dalam upaya untuk menjamin akurasi dan komparabilitas hasil pengujian serta kalibrasi nasional agar diakui di level internasional.

Pada tahun 2022 ini, lanjut Agah, Kedeputian SNSU BSN menyelenggarakan skema uji profisiensi sebanyak 2 periode, yaitu semester 1 dan semester 2 dengan penilaian kinerja laboratorium berdasarkan berdasarkan nilai acuan atau yang lebih dikenal sebagai Accuracy Based Proficiency Testing dimana nilai acuan yang digunakan ditetapkan menggunakan metode primer yang memiliki ketertelusuran ke Satuan Sistem Internasional (SI) unit.

Pertemuan teknis kali ini, berfokus pada uji profisiensi semester 1-2022 dengan menyelenggarakan 2 skema yaitu skema IDNPT03 – Unsur dalam air minum kemasan dan skema IDNPT-04-aflatoksin dalam pala. “Dengan jumlah peserta total 32 laboratorium pengujian yang terbagi menjadi 22 laboratorium terdaftar pada skema IDNPT-03 dan 10 laboratorium terdaftar pada skema IDNPT-04,” tutur Agah.

Terkait Accuracy Based Proficiency Testing, Kepala Lab SNSU Kimia BSN, Dyah Styarini menuturkan uji profisiensi memberikan bukti objektif dalam pemantauan kompetensi peserta. Bukti ini dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja peserta dan/atau memberikan kepercayaan pada kemampuan peserta untuk melakukan pengukuran tertentu.

Adapun, accuracy-based PT, menurut Dyah dapat meningkatkan akurasi dan keandalan pengukuran dan memberikan evaluasi yang obyektif atas kinerja laboratorium yang berpartisipasi. Serta, assigned value tertelusur ke SI unit dan disertai dengan nilai estimasi ketidakpastian pengukuran.

Selain Dyah, hadir sebagai narasumber lainnya yakni Pengelola Lab SNSU Kimia/Peneliti Ahli Muda BSN, Christine Elishian yang menyampaikan “Instruksi Teknis Unsur dalam Air Minum Kemasan (IDN PT-03)”; serta Metrolog Pertama BSN, Kukuh Prawita Satriaji yang mempresentasikan mengenai “Instruksi Teknis Uji Profisiensi Aflatoksin dalam Pala” dengan dimoderatori Pengelola Lab SNSU Kimia/Peneliti Muda BSN, Harry Budiman.

Secara terperinci, Kukuh menjelaskan informasi umum instruksi teknis dimana para peserta atau dalam hal ini laboratorium akan mendapatkan 80 gram bubuk pala; e-file instruksi teknis skema UP IDNPT-04; e-file Form Kondisi Sampel UP; serta e-file Form Laporan Hasil UP.

“Setiap kemasan sampel UP memiliki nomor tertentu dan tiap lab peserta mendapat nomor yang berbeda; menggunakan parameter uji skema UP IDNPT-04; dan sampel UP harus disimpan dalam freezer (-20oC) yakni waktu analisis,” tegas Kukuh.

Untuk pelaporan hasil, tambah Kukuh, form hasil uji yang telah diisi tersebut dikirimkan melalui email up.snsukimiabsn@gmail.com sebelum tanggal 8 Juli 2022. Selain itu, jika terdapat pertanyaan terkait skema UP IDNPT-04, dapat menghubungi Sekretariat UP melalui email up.snsukimiabsn@gmail.com.

Melalui Pertemuan Teknis Uji Profisiensi Kimia, Agah berharap uji profisiensi semester 1 dapat berjalan dengan baik dan lancar serta dapat sebagai bahan atau alat penjamin kualitas pengukuran dan ketertelusuran pengukuran kimia ke standar internasional. (nda-humas)