Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

BSN Hadiri Pertemuan ke-57 ACCSQ

  • Selasa, 14 Juni 2022
  • Humas BSN
  • 277 kali

Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui Direktorat Sistem Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian (SPSPK) menghadiri Pertemuan ke-57 ASEAN Consultative Committee for Standards and Quality (ACCSQ) pada tanggal 7-10 Juni 2022 melalui video conference. Pertemuan tersebut dihadiri oleh semua negara ASEAN, perwakilan sekretariat ASEAN dan mitra dialog ACCSQ pada sesi khusus.

Rangkaian pertemuan ke-57 ACCSQ diketuai oleh Deputy Director General Institute of Standards of Cambodia, Thara Nou. Adapun Direktur SPSPK BSN, Konny Sagala dipercaya menjadi wakil ketua. Pada kesempatan ini, delegasi Indonesia dipimpin oleh Koordinator Kelompok Substansi Pemenuhan Kewajiban Internasional Bidang Standar dan Penilaian Kesesuaian BSN, Aderina Uli Panggabean, dan dihadiri perwakilan Kementerian/Lembaga kordinator sektor nasional ACCSQ.

Salah satu agenda dalam rangkaian pertemuan ke-57 ACCSQ adalah monitoring dan evaluasi dari ASEAN Integration Monitoring Directorate (AIMD) terhadap standar, regulasi teknis dan prosedur penilaian kesesuaian (STRACAP) untuk mengurangi hambatan teknis perdagangan intra kawasan.

AIMD menyatakan bahwa progress yang telah dicapai oleh ACCSQ melalui harmonisasi standar, penyusunan Mutual Recognition Arrangement (MRA) dan harmonisasi regulasi teknis telah menunjukkan hasil yang bagus. Namun, evaluasi tersebut belum mencakup efektivitas penerapan MRA dalam perdagangan. ACCSQ mengharapkan AIMD, atau jika diperlukan dengan bantuan mitra dialog, dapat melakukan evaluasi efektifitas MRA di ASEAN dan dampak positifnya terhadap pelaku usaha.

Sustainability juga mendapatkan perhatian dalam pertemuan ACCSQ kali ini. Ada dua pemahaman ketika membahas sustainability yaitu penerapan kebijakan ACCSQ yang berkelanjutan dan penyusunan kebijakan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) melalui STRACAP.

Pemahaman pertama memandang bahwa diperlukan sumber daya finansial, sumber daya manusia dan organisasi yang terus menerus untuk menerapkan kebijakan ACCSQ, sehingga kebijakan tersebut tidak akan berhenti ketika bantuan dari mitra dialog berakhir. Pemahaman yang kedua mendukung terpenuhinya target SDG melalui pendekatan STRACAP. ISO telah mengidentifikasi kaitan antara standar dengan pencapaian target SDG yang dapat dipakai sebagai acuan di ASEAN. Forum ACCSQ sepakat bahwa dua pengertian sustainability tersebut sama pentingnya dan akan membahas lebih lanjut pada pertemuan selanjutnya.

ACCSQ juga masih mengeksplorasi sektor-sektor industri penting yang perlu mendapatkan dukungan STRACAP di ASEAN. Saat ini, ACCSQ tidak hanya menangani sektor yang disepakati dalam Priority Integration Sector (PIS) namun juga telah memperluas ke sektor lainnya. Tercatat 8 sektor telah tercakup dalam tugas ACCSQ yaitu Agro-based (Prepared Foodstuff), Automotive, Healthcare products (Cosmetics, Medical Device, Pharmaceutical, Traditional Medicine and Health Supplement), Rubber-based, Electrical and Electronic Equipment, Building and Construction Materials, Wood-based, dan Digital Trade.

Pada pertemuan ke-57 ini juga dibahas terkait pemenuhan kewajiban negara ASEAN kepada World Trade Organization (WTO). Salah satu ketentuan yang diatur adalah terkait Regional Trade Agreements (RTA) yang harus dinotifikasikan kepada WTO. Tercatat beberapa Free Trade Agreement (FTA) antara ASEAN dengan negara mitra telah dinotifikasikan kepada WTO yang dilakukan oleh notification body negara ASEAN. Di tingkat nasional, Kementerian dan Lembaga yang memberlakukan regulasi teknis sebagai turunan perjanjian di ASEAN juga diwajibkan untuk menotifikasikan regulasi tersebut kepada WTO. (SPSPK/ed:Humas)