Badan Standardisasi Nasional
  • A
  • A

WSC dan BSN Serukan Deklarasi Bersama: Dukung Pemulihan Global Melalui Standar Internasional

  • Selasa, 25 Oktober 2022
  • Humas BSN
  • 438 kali

Peserta G20 International Standards Summit 2022 bersama World Standard Cooperation (WSC) – yang terdiri dari International Electrotechnical Commission (IEC), International Organization for Standardization (ISO), dan International Telecommunication Union (ITU) –  menyerukan kepada semua negara untuk mengakui, mendukung, dan mengadopsi standar internasional yang berkontribusi pada isu-isu prioritas yang diidentifikasi oleh Presidensi G20 Indonesia sebagai bagian dari tujuan G20 untuk pulih bersama, bangkit lebih kuat.

Dalam puncak acara G20 International Standards Summit 2022 yang digelar pada Kamis (20/10/2022), Sekretaris Jenderal IEC, Philippe Metzger mengatakan bahwa untuk meraih tujuan pemulihan global, para pemangku kepentingan dapat menggunakan standar internasional. Menurutnya, standar internasional mendukung tujuan kebijakan menjadi hasil yang konkret dan terukur. “Standar internasional dan sistem penilaian kesesuaian dapat menjadi pedoman terbaik bagi semua pihak dalam meraih pemulihan global,” tuturnya.

Ia menyatakan, standar internasional menyediakan kerangka kerja yang sangat dibutuhkan dan seperangkat metrik bagi pemangku kepentingan publik dan swasta untuk menerapkan nol emisi karbon. Kerangka kelembagaan yang disediakan oleh IEC, ISO dan ITU melibatkan berbagai pemangku kepentingan, untuk membantu mengatasi berbagai masalah yang luas di seluruh masyarakat. Standar internasional, bersama dengan pengujian dan sertifikasi, dapat menjadi kunci penting dari proyek infrastruktur, kesehatan, dan keberlanjutan.

Untuk mencapai pemulihan global, dibutuhkan kerja sama yang luas guna memastikan akses yang lebih adil di bidang kesehatan. Dalam hubungannya dengan penilaian kesesuaian, standar internasional dapat berkontribusi pada sebagian besar tujuan kebijakan yang terkait dengan kesehatan. Standar internasional mendukung penuh layanan mulai dari perangkat medis hingga manajemen organisasi kesehatan dan, di banyak negara, dapat menjadi panduan bagi peraturan teknis.

Philippe menyatakan, IEC, ISO, dan ITU seperti tiga sisi segitiga yang saling mendukung satu sama lain. “Tugas yang perlu dilakukan bersama adalah mengembangkan ekosistem standardisasi, dengan selalu memasyarakatkan standardisasi dan menyosialisasikan pentingnya penerapan standar,” ujarnya.

Terkait upaya meraih tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dan net zero, Sekretaris Jenderal ISO, Sergio Mujica mengatakan bahwa tiga organisasi internasional berkomitmen penuh untuk mengatasi perubahan iklim.

Sergio menuturkan, beberapa efek perubahan iklim sudah tidak dapat diubah lagi. Tidak peduli apa yang kita lakukan, permukaan laut sudah naik. Oleh karenanya, perubahan iklim menjadi urgensi bagi organisasi internasional untuk mengembangkan standar internasional.

“Kami memiliki rencana aksi yang sangat konkret dalam menghadapi perubahan iklim melalui standarisasi. Selain memetakan standar yang paling relevan terhadap perubahan iklim, kami juga mengembangkan standar-standar baru”, ungkapnya.

Ia mengungkapkan, dampak perubahan iklim ditambah dengan terus meningkatnya permintaan listrik mempercepat kebutuhan transisi menuju pembangkitan energi yang lebih berkelanjutan dan bersih. Standar internasional, bersama dengan penilaian kesesuaian, menyediakan kerangka kerja untuk produksi listrik yang aman dan efisien dari sumber energi terbarukan. Standar internasional juga menyediakan solusi energi cerdas yang membantu mengurangi emisi karbon di seluruh dunia.

Tidak lupa, di hadapan para delegasi negara-negara anggota G20, Ia pun menegaskan bahwa organisasi standar internasional berfokus mengembangkan standar untuk membantu masyarakat. “Kami percaya, bahwa standar internasional kami adalah solusi yang tepat, konkret, dan dapat ditindaklanjuti untuk menghadapi tantangan global,” tegas Sergio.

Sementara itu, terkait transformasi digital, Direktur Biro Standardisasi Telekomunikasi ITU, Chaesub Lee menekankan bahwa transformasi adalah suatu proses, dan standar adalah alat untuk mencapai tujuan.

Standar internasional mendorong transformasi digital di banyak industri, sektor, dan kota, yang memungkinkan pendekatan sirkular, inklusif, dan humanis, yang memberdayakan semua orang, tanpa memandang jenis kelamin, usia, atau kemampuan, untuk mendapatkan manfaat yang adil dan sama rata dari teknologi baru. “Setiap negara tentu memiliki kebijakan masing-masing. Kendati demikian, standar internasional dapat menjadi referensi untuk seluruh negara,” tuturnya.

Pada kesempatan ini, Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN), Kukuh S. Achmad juga mendorong seluruh anggota G20 untuk konsisten dalam komitmennya mendukung isu-isu prioritas Presidensi G20 Indonesia yaitu arsitektur kesehatan global; transformasi digital; keamanan energi dan transisi energi berkelanjutan; serta net zero dan SDGs.

“Kami percaya bahwa standar internasional, bersama pengujian dan sertifikasi, merupakan kunci untuk mengimplementasikan berbagai kebijakan terkait infrastruktur, kesehatan, dan isu-isu keberlanjutan. Peran IEC, ISO dan ITU sangat penting dalam mendukung kerangka kelembagaan global dalam meningkatkan kualitas infrastruktur, khususnya di anggota G20. Indonesia berkomitmen kuat terhadap pencapaian tujuan global dan mengajak seluruh negara anggota G20 untuk bekerja sama, berkontribusi bagi kesejahteraan dunia melalui standardisasi,” pungkas Kukuh. (ald-humas/ed:Arf-Humas) 

 

naskah lengkap Call to Action dapat dibaca di tautan: G20 – 20 October 2022 – WSC (worldstandardscooperation.org)